Seorang Pelajar di Bintan Diduga Jadi Korban Bullying, LAM Minta Jadi Atensi

Seorang Pelajar di Bintan Diduga Jadi Korban Bullying
Gotvnews.co.id

GOTVNEWS, Bintan — Dugaan bullying terjadi di SMKN 1 Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, dengan korban siswa kelas 10 berinisial G.P.

Laporan telah diterima LAM Bintan dari orang tua korban. Ketua LAM, Dato Syahri, menyatakan pihaknya akan mengupayakan penyelesaian melalui mediasi dan musyawarah jika kedua pihak bersedia.

“Kami akan mengupayakan penyelesaian melalui mediasi dan musyawarah mufakat, sepanjang kedua belah pihak bersedia,” ujarnya Minggu (26/4/2026).

LAM juga menyayangkan lambatnya respons sekolah dalam memberikan kejelasan, sehingga keluarga korban merasa tidak mendapat keadilan. Minimnya komunikasi dinilai menimbulkan kesan kasus ditutupi.

Orang tua korban pun melaporkan kejadian ini ke Polsek Bintan Utara. Meski begitu, LAM tetap mendorong penyelesaian secara kekeluargaan serta meminta sekolah lebih cepat, terbuka, dan preventif ke depan.

“Ke depan, sekolah harus lebih cepat, terbuka, dan melakukan langkah preventif agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tutupnya.(Mhd)

=====================================================================

Viral! Pelajar SMKN 1 Seri Kuala Lobam Diduga Jadi Korban Bullying, Orang Tua Minta Keadilan

https://ulasan.co/

BINTAN – Dugaan kasus bullying yang menimpa seorang pelajar SMK Negeri 1 Seri Kuala Lobam menghebohkan publik setelah video kejadian tersebut viral di media sosial.

Peristiwa ini terjadi di lingkungan sekolah yang berada di Jalan Busung Lama, Desa Kuala Simpang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri).

Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan kekerasan antar pelajar di lingkungan pendidikan. Selain itu, rekaman video yang beredar memperlihatkan aksi kekerasan yang cukup memprihatinkan.

Perilaku tersebut terlihat dalam dua video yang sempat viral. Pada video berdurasi 17 detik, tampak seorang pelajar memukul temannya di dekat meja dan kursi di dalam kelas.

Pelaku terlihat tidak mengenakan baju dan hanya memakai celana panjang menyerupai celana training. Sementara itu, korban tampak tidak melakukan perlawanan saat kejadian berlangsung.

Selanjutnya, pada video berdurasi 25 detik, pelajar yang sama kembali terlihat melakukan kekerasan. Ia memukul bagian tengkuk korban dengan cukup keras.

Bahkan, pelaku juga terlihat mengepalkan tangan dan menempelkannya di bagian leher korban, seolah hendak melayangkan pukulan. Korban yang mengenakan kaos berwarna hitam terlihat pasrah menerima perlakuan tersebut.

Tidak hanya itu, pelaku juga tampak menampar pipi korban sambil berjalan keluar dari ruangan kelas. Lebih lanjut, saat korban berjalan menuju pintu keluar, pelaku kembali menerjangnya dari belakang hingga hampir terjatuh.

Sementara itu, orang tua korban, Sulistyo membenarkan bahwa anaknya menjadi korban pemukulan di sekolah. Ia menyampaikan hal tersebut saat dikonfirmasi di Bintan pada Senin, 27 April 2026.

Ia mengaku kecewa terhadap pihak sekolah yang dinilai tidak terbuka terkait kejadian yang menimpa anaknya. Menurutnya, pihak sekolah justru lebih banyak membahas evaluasi anaknya dibandingkan menjelaskan kronologi kejadian.

“Saat itu, saya di panggil ke sekolah setelah seminggu kejadian anak saya dipukuli oleh temannya tanggal 16 April 2026. Saya hadir saat itu, tidak ada dihadiri oleh keluarga sebelah (pelajar yang memukuli anaknya),” ucap dia.

Setelah pertemuan tersebut, ia kemudian menanyakan langsung kepada anaknya mengenai kejadian yang sebenarnya. Dari situlah, ia mengetahui adanya video yang merekam peristiwa pemukulan tersebut.

Selanjutnya, ia meminta anaknya mengirimkan video tersebut ke ponselnya. Setelah melihat rekaman tersebut, ia memastikan bahwa anaknya benar-benar menjadi korban kekerasan di sekolah.

Tanpa menunggu lama, ia langsung menghubungi pihak sekolah untuk meminta penjelasan. Namun demikian, pihak sekolah hanya menyampaikan rencana untuk menggelar mediasi lanjutan.

“Sampai sekarang tidak ada lagi mediasi di sekolah,” terang dia.

Akibat kejadian tersebut, korban kini mengalami trauma dan enggan kembali ke sekolah. Bahkan, pada hari Senin, korban memilih tidak masuk sekolah karena merasa takut.

“Hari ini (Senin), anak saya tidak sekolah. Anak saya takut. Kata anak saya, ayah laporin ke polisi. Saya minta keadilan, pak,” sebut dia mengakhiri.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala SMK Negeri 1 Seri Kuala Lobam, Mustafa Kamal belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut saat dikonfirmasi oleh jurnalis.

0 Comments